Riwayat pendidikan Indonesia bisa dikatakan cukup bagus jika kita menengok sejenak ke masa lalu. Saat dimana ketika malaysia dan korea selatan belajar banyak dari negeri bernama Indonesia. Guru sebagai tenaga pendidik banyak dikirim ke tetangga kita negeri jiran sebagai wujud komitmen mereka untuk memajukan bangsanya. Besarnya komitmen malaysia ini juga ditunjukkan jepang setelah diruntuhkan sekutu pada saat perang dunia kedua dimana bom atom mengguncang hiroshima dan nagasaki, pemerintah jepang mendata ulang berapa banyak tenaga pendidik tersisa. Seberapa pentingkah peran pendidikan dalam mengangkat derajat dan martabat sebuah bangsa sehingga negara selatan berlomba mengkampanyekan hal ini.
Apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar kata pendidikan? Sekolah, seragam, buku pelajaran, ujian nasional, kuliah, kerja, dan seabrek kata lain yang representatif untuk menunjukkan korelasi yang kuat dengan dunia pendidikan. Pernahkah muncul kata “merdeka”? Saya yakin bahwa kata-kata diatas familiar ditelinga kita saat mendiskusikan pendidikan. Untuk satu kata “merdeka”, orang lebih familiar dengan terbebas dari penjajahan bangsa asing. Pendidikan dan merdeka seiring dengan berjalannya waktu akan sangat mungkin memiliki korelasi yang begitu kuat. Lantas apa itu pendidikan?

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Maaf, saya kurang tau siapa pendefinisi pendidikan seperti tertulis. Tetapi saya sepakat dengan hal itu.
Definisi mengenai pendidikan tentunya akan sangat beragam antara setiap kepala. Tetapi kita semua sepakat bahwa proses belajar adalah satu alur yang harus ada dalam pendidikan. Itulah mainstream pendidikan setiap pendidik maupun terdidik. Sementara proses lain yang kemudian muncul atau secara sengaja dimunculkan untuk mendukung proses belajar tersebut adalah turunan. Yang pokok atau utama adalah proses belajar.
Hidup yang kita alami pun merupakan sebuah proses belajar. Lahir dari rahim ibu, mulut sudah belajar untuk mengeluarkan suara dengan menangis guna memberi tanda bahwa kita telah lahir ke dunia. Belajar untuk berjalan. Diawali tengkurap, merangkak, berdiri pada penyangga tertentu hingga akhirnya perlahan-lahan mulai berjalan. Menangis pun bagi seorang bayi merupakan proses belajar, berusaha menunjukkan argumennya atas tindakan ibu atau orang terdekatnya. Mungkinkah dari contoh ini kita bisa mengambil hipotesa bahwa pendidikan itu belum tentu sekolah? Kalau saya pribadi sepakat dengan kesimpulan awal semacam itu.
Siapa yang tidak kenal dengan nabi muhammad saw, isaac newton, albert einstein, imam syafi’i, ibnu sina, muhammad yunus, yohannes surya, susilo bambang yudhoyono, hingga barrack obama. Semua mengalami proses belajar, tinggal bagaimana kita merespon rangsangan yang datang. Apakah akan kita tinggalkan tanpa mengambil satu nilaipun ataukah mengambil semua tanpa menyaringnya terlebih dulu.
Nabi muhammad saw mengalami berbagai macam kejadian yang bernilai pendidikan. Bagaimana belajar menjadi seorang entrepreneur melalui berdagang, menjadi kepala rumah tangga, mengelola negara, berperan sebagai pendidik. Beliau memang rasulullah, namun beliau juga manusia seperti kita yang apabila dipukul sakit. Kalau tidak makan lapar, kalau tidak minum haus. Beliau juga beristri, beranak, juga tersenyum. Kalau beliau bisa, lantas mengapa kita tidak berusaha untuk meneladaninya. Isaac newton dan albert einstein adalah dua ilmuan abad ke-19 dan ke-20 yang sangat sukses dengan hasil penemuannya. Hukum newton dipakai hampir disemua ilmu baik eksakta maupun humaniora, bukunya yang terkenal natural principia of mathematic. Mereka pun juga mengenyam proses belajar.
terus kembangkan untuk berakhlaqul qarimah.dan menerapkan kebenaran yang dapat di buktikan di al’qur’an pada penerapan kehidupan