BBM turun, BOHONG…BOHONG…BOHONG. Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu belakangan ini ternyata tidak seperti yang diharapkan pemerintah. Masih ingat awal desember tahun kemarin, untuk pertama kalinya dalam sejarah republik Indonesia terjadi penurunan harga BBM untuk jenis premium dan solar bersubsidi. Dibilang sejarah karena memang sejak republik ini berdiri, harga BBM melambung bak bintang film. Meskipun kondisinya sama-sama naik, implementasi dilapangan tidak bisa dikatakan sama. Pasca penurunan awal desember, dipertengahan bulan dan tahun yang sama kembali kabinet mengumumkan bahwa harga kembali diturunkan hingga 17%. Untuk ketiga kalinya, pertengahan januari 2009 pemerintahan SBY-JK mengembalikan harga ke tingkat semula Rp 4.500,-.
Eksekutif dalam hal ini presiden berharap bahwa dengan adanya penurunan bahan bakar, ekonomi akan terdorong untuk tumbuh lebih cepat. Daya beli masyarakat meningkat. Produksi dalam negeri tetap stabil sehingga pemutusan hubungan kerja (PHK) juga dapat dihindari. Tentu hal ini harapan masyarakat Indonesia pada umumnya. Akan tetapi, ekspektasi belumlah sesuai dengan kenyataan di lapangan. Misalnya tarif angkutan kota, sejak awal penurunan harga awal desember hingga kini penurunan ketiga, besarnya tarif juga tidak kunjung turun. Harga sembako kembali melambung hingga sulit dijangkau masyarakat. Tidak bisa diklaim bahwa daya beli masyarakat meningkat.
Lantas apakah ada salah dalam penurunan harga BBM? Sangat wajar kalau komoditas ekspor terlaris ini turun. Bahkan untuk ukuran sekarang, apabila subsidi, harga kita masih tergolong tinggi. Menurut Kurtubi, pengamat perminyakan, idealnya BBM bersubsidi bernilai dikisaran Rp 4000,- sejak awal desember. Tepatnya ketika harga minyak mentah dunia anjlok menjadi dibawah US$ 40/ barel. Ironi, tetangga kita malaysia telah menurunkan harga sejak juli tahun lalu. Mungkin sekarang sudah turun hingga lebih dari 8X.
Menurut pendapat saya, penurunan harga BBM sengaja diulur untuk memberikan pencitraan SBY-JK. Tidak ada alasan kuat untuk menjelaskan mengapa harga tidak turun sekaligus. Kalau ada yang berpendapat bahwa kemungkinan akan ada kenaikan harga lagi. Nonsense!!!. Krisis ekonomi global memaksa semua negara untuk berhemat dan mempertahankan ekonomi domestiknya. Sehingga kejadiannya adalah banyak negara mengurangi produksi. Daya beli masyarakat menurun. Sebuah krisis terparah sejak era 1930an. Karena negara mengurangi produksi, maka akan terjadi pengurangan tenaga kerja, konsumsi BBM untuk kebutuhan industri pun berkurang menyebabkan harga minyak mentah anjlok. Mustahil berharap minyak naik, paling tidak hingga 3 tahun kedepan. Jelas ini bentuk pencitraan terhadap kabinet SBY-JK.
Kebijakan populis. Itulah kata maupun diksi mendekati tepat untuk mengapresiasi langkah SBY dalam mensukseskan manuver politiknya guna kepentingan 2009. Efektifitasnya akan kita saksikan bersama tahun ini. Tentunya indikator paling mudah untuk mengukur seberapa besar pengaruh kebijakan populis SBY adalah dukungan suara/elektabilitas pada pemilihan presiden juli nanti. Kepada segenap pembaca blog, sebuah keputusan telah digulirkan ke lapangan. Termasuk ketika menaikkan harga tahun 2005. Wajar jika harga BBM turun karena harga minyak dunia turun. Wajar pula bila angkutan kota tidak turun karena mereka mencontoh pemimpinnya. Plinplan. Harga turun namun pendapatan mereka tidaklah bertambah.
Semoga pemerintah diberi kelapangan hati oleh allah swt. Dimudahkan langkah kakinya. Sabar menjadi kunci dan kemenangan bangsa Indonesia. Segala dosa kita dan pemerintah diampuni oleh allah swt.

politik pencitraan sama dengan politik tipu-tipu…
pake bikin iklan pula…
masalahnya sebagian besar org di negeri kita g melek politik krn pendidikan rendah…
argh… ayolah, menang 2009!