Pasang surut pergerakan mahasiswa telah dimulai sejak awal perjuangan kemerdekaan negara republik indonesia. Budi utomo sebagai salah satu pelopor gerakan pemuda dikala tahun 1920-an. Berisikan anak muda dengan idealisme kemerdekaan bagi sebuah bangsa, tempat dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Negara dimana sebuah identitas muncul pertama kali. Ciri dari sebuah kultur yang dibangun dengan latar belakang suku berbeda. Namun terdapat semangat juang sama. Kemerdekaan Indonesia.
Apabila kita buka kembali catatan sejarah nasional negeri bernama Indonesia, disana peran pemuda tidak bisa dikatakan sepele. Budi utomo merupakan salah satu dari sekian banyak-bahkan hingga saat ini terus bermunculan-organisasi pemuda demi kemerdekaan negara kesatuan republik indonesia. 100 tahun yang lalu ditandai sumpah pemuda dengan tiga butir ikrar yang begitu melekat dikepala kita, pelopor negeri ini telah mencanangkan semacam platform persatuan bangsa diatas kemajemukan yang saat ini kita alami. Belum lagi peran pemuda ketika mendesak sukarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan segera dengan menculik dan mengamankannya direngas dengklok.
Secara tidak langsung pemuda telah mengangkat sukarno sebagai presiden. Namun ditahun 1960-an lagi-lagi pemuda menjadi saksi perjalanan panjang sejarah bangsa indonesia dengan menurunkan mengangkat suharto sebagai presiden menggantikan sukarno. Tak jelas memang alasan penggantian ini. Pemuda mengangkat suharto maka pemuda pula yang melengserkannya di tahun 1998 tepatnya dibulan mei. Inilah karakter khas pemuda. Dinamis. Maka saat kita merasa asyik-asyik saja dengan segala aktivitas keseharian, perlu ada evaluasi. Apakah sudah cukup sampai disini?
Sanjungan bagai pahlawan dalam memperjuangkan hak rakyat diperolehnya dikala itu. Namun kini, cacian sering terlontar dari mulut masyarakat akan apa yang dilakukan pemuda. Adalah wajar jika cercaan ditujukan kepada pemuda anarkis. Menyampaikan pendapat tidak sesuai porsinya. Seakan otot berjalan lebih cepat dibanding otak. Selayaknya otak ada dibagian-bagian perkasa tubuh guna fighting. Perilaku segelintir pemuda tak bertanggung jawab lantas digeneralisir terhadap semua. Akhirnya terbentuk paradigma bahwa pemuda useless. Cuma bisa demo aja. Stereotip seperti itulah yang akhirnya sulit diatasi. Ingin menang sendiri sesuai dengan idealisme masing-masing didasarkan pada usia sehingga memunculkan golongan tua dan muda.
Dalam setiap masa, pemuda memiliki momen sendiri. Kesempatan untuk menjadikan negerinya sebuah kerajaan digdaya. Tidak hanya dari satu sudut pandang tertentu. Harus diakui bahwa setiap potensi hendaknya dioptimalkan. Apapun bentuk potensinya. Tidak ada yang berhak mengatakan bahwa A lebih potensial dari B. Setiap dari kita adalah unik sehingga tidak bisa diukur mana yang lebih dan mana yang kurang. Bahwa setiap masa memiliki momen sendiri adalah benar. Sebaiknya hal ini juga semakin dimaknai secara arif dan bijaksana. Proporsional dan rasional.
Kalau akhir-akhir ini pemuda sering unjuk rasa. Hal ini tentunya menjadi koreksi bagi pemerintah dan legislatif, mungkin ada yang salah dalam pengambilan kebijakan. Bukan malah berusaha menyalahkan. Menganggap bahwa pemuda itu masih kecil belum tahu panggung pemerintahan. Pemuda adalah agent of change merupakan filosofi yang tidak salah. Akan tetapi kalau slogan itu tidak dibarengi dengan perilaku yang baik dari pemerintah dan legislatif maka bukan tidak mungkin mimpi mencapai indonesia madani hanya khayalan belaka. Sebuah dongeng yang belum tentu ada benarnya. Cerita futuristik untuk bangsa antik.
0 Responses to “pemuda, dulu dan kini”