Mimpi besar bangsa Indonesia adalah bagaimana terwujudnya tatanan masyarakat seperti yang telah dicita-citakan dalam undang-undang dasar (UUD) 1945. Singkatnya biasa kita sebut masyarakat madani. Dari jaman soekarno hingga susilo bambang yudhoyono, masyarakat madani menjadi jargon yang sering diteriakkan. Lantas bagaimana sebenarnya arah kemudinya untuk mencapai masyarakat madani? Turunan maupun langkah yang harus dilalui dan dilakukan untuk sampai kepada model yang telah diimpikan tentunya meliputi banyak aspek kehidupan. Politik, ekonomi, sosial budaya, ideologi, pendidikan, pertahanan keamanan, dan aspek kebangsaan lainnya.
Obsesi mulia ini idealnya melekat kepada setiap insan yang merupakan bagian dari integrasi bangsa Indonesia. Sebuah cita-cita besar sebagai upaya menunjukkan izzah identitas bangsa serta umat Islam karena jumlah penduduk Muslim terbesar yang disandang. Sebagai simbol panji kemenangan Asia, melayu, dan Islam. Afirmasi, itulah kunci terwujudnya usaha yang kita bangun saat ini. Tentunya tidak hanya sekedar afirmasi tanpa sebuah tindakan yang konkrit. Bukan hanya tugas pemerintah, akan tetapi semua elemen yang menjadi bagian warga negara Indonesia. Salah satu elemen yang paling vital untuk mengawal terwujudnya masyarakat madani adalah murid dan mahasiswa.
Masa depan bangsa pastilah tercermin dari pembinaan yang dilakukan terhadap masyarakat usia dini. Karena inilah yang nantinya menjadi tulang punggung. Maju dan mundurnya bangsa tergantung pada bagaimana pengelolaan terhadap generasi muda. Belajar keras disekolah maupun bangku kuliah bukanlah satu-satunya cara untuk mewujudkan warisan mimpi pahlawan kemerdekaan kita. Itu hanya bagian dari bentang panjang tahapan yang harus dilakoni.
Fokus pada kompetensi inti yang dipelajari adalah bagian rantai panjang yang terbentang. Namun, jangan lantas hal ini dijadikan sebagai pembenaran bahwa mahasiswa tidak perlu terlibat dalam proses lain yang secara paralel berjalan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya sebagai iron stock (cadangan masa depan), namun juga pengawal proses pemerintahan yang sedang berjalan. Unjuk rasa demokratis mahasiswa jangan selalu dianalogikan sebagai suatu hal yang useless. Itu adalah bagian dari proses pembelajaran bukanlah sebuah kesalahan yang harus ditinggalkan.
Aktif dalam unit kegiatan mahasiswa dilakukan sebagai bentuk membiasakan dan menyiapkan individu yang kompeten dalam bidang keilmuan serta kritis terhadap kondisi yang terjadi. Membangun sense of belonging kebangsaan juga perlu diupayakan melalui cara ini. Idealisme yang terbangun saat aktif dalam dunia kemahasiswaan diharapkan melekat dan mengafirmasi hingga nanti tiba saatnya mengalami dunia pasca kampus. Kampanye peran mahasiswa peduli Indonesia perlu dilakukan olehs etiap mahasiswa dan juga pendidik.
Diperlukan pula mobilisasi vertikal dan horisontal. Khusus untuk mahasiswa, mobilisasi horisontal mendesak untuk dilakukan untuk menyiapkan masyarakat agar siap dan mau menerima proses transformasi yang kita upayakan. Alumni yang telah mengalami proses pengkaderan kampus berperan dalam pengambilan kebijakan yang mengarah pada terwujudnya masyarakat madani bukan pada kepentingan pribadinya. Itulah peran mahasiswa yaitu Transformasi Bangsa Indonesia Dari Kondisi Saat Ini Menuju Masyarakat Madani. Jika mahasiswa sudah melakukan beberapa point diatas maka berbahagialah. Karena secara tidak langsung mahasiswa telah meletakkan satu batu bata proses perbaikan bangsa dan umat Islam.

Tulisan yang bagus. Sekedar urun rembuk, agar tidak timpang, pandang Indonesia adalah sebuah peradaban … Salam.
Contribusiku belum ada ni gung.. ya seperti yang kubilang di post yang lain.. mau buat web aja sulit… hahahha…. padahal aku puengen banget buatnya… hahaha… mau diajak kerja sama gung?? biaya yang buat website aku.. yang ngurus bahan untuk di upload kau… wakkakaka…..